Senin, 21 April 2014

TERBATASNYA ANGKUTAN UMUM, PULANG- PERGI SISWA BERTARUNG NYAWA


MURATARA – Minimnya alat transportasi angkutan pelajar yang tersebar di beberapa sekolah kelurahan Rupit Kecamatan Muara Rupit Kabupaten Muratara, sehingga membuat para pelajar khususnya siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) lebih memilih atap mobil demi sampai kesekolah.

Setidak-tidaknya Banyak kecamatan yang masih tergendala masalah transportasi umum supaya dapat diatasi secepatnya agar para siswa yang pulang-pergi setiap hari dari tempat tinggal ke sekolah tidak mengalami kesukaran. Jarak yang menghubungi antara desa di kecamatan dengan tempat-tempat sekolah cukup jauh tidak bisa ditempuh dengan jalan. Pelajar yang tidak memiliki transportasi sendiri terpaksa bergelantungan di anggutan desa.
Seperti diucapkan oleh Rendra, salah seorang pelajar mengatakan, dirinya harus menaiki atap angkutan desa, dikarenakan jarangnya mobil yang masuk ke dalam wilayah sekolahnya.

“Kalau tidak naik atap, nanti bisa telat kak ke sekolahnya, jadi mau bagaimana lagi,” terangnya
Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Muratara Sunardin, mengakui masih minimnya angkutan bagi pelajar yang tersebar di tujuh kecamatan, namun kedepannya Pemkab akan membeli mobil angkutan tersebut.
“Ini sudah terpikir oleh Pj Bupati, namun harus maklum karena fokus pertama pembangunan infrastruktur terlebih dahulu, mungkin angkutan untuk pelajar akan dianggarkan terlebih dahulu,” terangnya saat dikonfirmasi via telepon, Senin.

Seperti dikutip tribun, Ia menambahkan, mobil yang akan disediakan untuk para pelajar, nantinya berjenis bus, namun bus tersebut hanya melintasi sekolah-sekolah yang berada di pinggir jalan

“Kalau angkutan yang masuk kedalam seperti di kecamatan Karang Dapo, mungkin bukan bus tapi akan kita siapkan angkutan desa,” jelasnya seraya mengatakan belum tau berapa bus dan angkutan yang akan disiapkan.

foto:tribun

RSUD Rupit Masih kekurangan fasilitas memadai

RUSD Rupit
RSUD – Musi Rawas Utara (Muratara) sebagai Kabupaten yang baru terbentuk berusaha memerbaiki layanan kesehatan yang prima. Demikian disampaikan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rupit dr. Marhendra Putra melalui Kepala Keperawatan RSUD Rupit, Nelly Haryanti, S.Kep,Ns, Kamis (21/11) tulis kabarsumatera
Dan, kini pun fasilitas RSUD Rupit mulai memadai untuk melayani masyarakat. Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki meliputi Gedung administrasi, Fasilitas Rawat jalan, UGD 24 jam, rawat inap dengan kapasitas 50 tempat tidur yang melayani pasien penyakit dalam, bedah, penyakit anak, kebidanan dll, tersedia juga laboratorium, UTDRS (Unit Transfusi Darah Rumh Sakit), Rontgen, serta Farmasi, Pelayanan GIZI, USG & EKG, Rekam Medik. Dan, akhir 2013 ada USG 4 dimensi serta Ambulance Rumah sakit.

Untuk tenaga perawat dan bidan saat ini berjumlah 54 orang dan sudah terlatih yang memiliki sertifikat kompetensi pelayanan gawat darurat, BCLS (Basic Cardiac Life Support) dan direncanakan tahun 2014 tenaga keperawatan juga akan ditingkatkan jumlahnya karena awal tahun 2014 RSUD rupit sudah memiliki gedung baru yang bertempat di Desa Lawang Agung Kecamatan Rupit ujarnya.

Pada 2014, bagian keperawatan sudah menyiapkan pelayanan UNGGULAN yaitu asuhan keperawatan dengan sistem pasien kelola maksudnya setiap pasien ditangani oleh satu perawat yang bertanggung jawab mulai dari masuk Rumah Sakit sampai dengan keluar dari RSUD.

Untuk jenis penyakit pasien yang banyak ditangani sepanjang tahun 2013 ini yaitu penyakit ISPA (infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan Tubercolosis Paru. Hal ini dikarenakan pengaruh lingkungan dan Perilaku Hidup Bersih yang kurang diperhatikan.

Nyonya Titin, pasien di RSUD Rupit berkata, ia telah merasakan kondisi kesehatan yang membaik.

“Alhamdulillah, syukur nian ado rumah sakit Rupit ini. Jadi, aku tak lagi berobat dak jauh-jauh ke Linggau. Kalau dulu nak rontgen bae harus ke RS Linggau nian. Sekarang biso di sini,” kata Titin dengan logat khas daerahnya.
Jika dilihat dari keperluan untuk jangka panjang fasilitas RSUD Rupit masih tergolong apa adanya, beberapa laporan yang kami terima baru-baru ini. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musirawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, mengusulkan penambahan beberapa fasilitas rumah sakit umum setempat yang saat ini masih memprihatinkan. Lapor skalanews. Fasilitas bangunan diusulkan itu antara lain penambahan ruangan pasien, gawat darurat dan ruangan dokter spesialis, kata Penjabat Bupati Muratara H Akisropi Ayub melalui Kabag Humas Sunardin, di Musirawas Utara, Rabu.

Ia mengatakan, bila fasilitas bangunan rumah sakit itu sudah ditambah, maka pelayanan kepada masyarakat bisa ditingkatkan termasuk penambahan tenaga dokter.
Sebagai kabupaten pemekaran dari kabupaten induk Musirawas beberapa bulan lalu masih banyak fasilitas yang perlu ditambah, namun lebih mengutamakan pelayanan rumah sakit.

Apa lagi Rumah sakit Umum itu berada di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), tidak hanya melayani warga setempat, tapi bisa melayani pengguna jalinsum yang terkena musibah.

Dana pembangunan rumah sakit yang diusulkan itu mencapai miliaran rupiah dan diharapkan bantuan dari Kabupaten induk Musirawas dan Provinsi Sumatera Selatan, ujarnya.

Direktur Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Rupit, Muratara dr Arios Saplis mengatakan, pihaknya mengusulkan penambahan empat bangunan guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Keempat bangunan tersebut, yaitu ruang kamar operasi, ruang ICU, rontgen dan gudang diharapkan bisa direalisasikan 2014-2015 termasuk penambahan peralatan medis lainnya.

Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat setempat dan warga lainnya serta bisa sejajar seperti rumah sakit tetangga lebih maju.
Selain itu, pihaknya juga mengusulkan peralatan ke pusat, baik Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pelatihan-pelatihan tingkat nasional.

“Kita akan bekerja sama dengan Universitas-Universitas fakultas kedokteran dan pihak Rumah Sakit Sobirin Musirawas, RS Siti Aisyah Lubuklinggau, terutama dibidang spesialis, yakni spesialis dalam, bedah kandungan, mata, anak, serta penyakit dalam,” Ujarnya. (ant/mar).

Foto, kabarsumatera

MTQ Muratara Perdana Siap Jadi Pematik Api Semangat


PERTANDINGAN – Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Ke-1 peringkat se kabupaten Muratara secara resmi dibuka oleh bupati Muratara Akisropi Ayub. M.Si. (10/03/14). Lokasi acara diadakan di depan kantor camat Rupit.

Seperti dilaporkan kabar kite.com, dalam acara pembukaan tersebut dihadiri DPRD Mura Bastari, ketua TP PKK Siti Fatimah , tokoh masyarakat Firdaus Taufik dan lain-lainnya. Acara tersebut berlangsung khidmat dimulai dengan pembacaan tilawah Quraan. Dalam MTQ ini peserta diwakili dari 7 kecamatan yang ada di Muratara.

Dalam pidato upacara pembukaan bupati Akisropi Ayub mengajak masyarakat muratara kembali menghayati nilai-nilai Al-Quraan agar selamat di dunia dan akhirat. Pendekataan ini penting dalam masyarakat membangun, bukan saja secara fisik semata tetapi dari sudut spritual sangat menentukan kemajuan masa depan Muratara.

Perhatian pemerintah setempat semoga tidak terhenti pada program yang bersifat temporer saja. Hal-hal yang perlu diperhatikan lagi dengan menitik berat bagi pembangunan masyarakat secara fundamental. Adapun yang menjadi persolan selama ini dengan terabainya beberapa sekolah-sekolah agama swasta dan guru-guru yang mengajar di bidang agama. Dengan tidak difasilitaskan dan honor yang mencukupi guru-guru yang berprofesi dalam bidang keagamaan sulit untuk berkembang dan bertahan.
Sebut saja Hisam (bukan nama sebenar) guru madrasah Nurul Akhlak Biaro, beliau mengaku hanya digaji Rp. 250.000/bulan dengan jam mengajar 01:00-05:30 petang.

Harapan masyarakat momentum MTQ ini bukan sekedar ritual dan hiburan pelepas lelah, tetapi pematik api semangat disegenap lapisan masyarakat Murata untuk melomba-lomba dan loyal dengan peruahan yang bersifat rekonstruksi moraliti ini.

Ketidakadilan putusan Suban akan jadi bom waktu

MURATARA – Ketua Pemuda Peduli Rawas Ilir (PPRI), Abdul Aziz menga – takan, Suban IV milik Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), bukan milik Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Kendati telah ada keputusan Kementerian Dalam Negeri (Ke – mendagri) Republik Indonesia. “Masyarakat Kecamatan Ra – was Ilir, Kabupaten Mu ra tara secara tegasmenolaktapalbatasyang sudah ditentukan Ke mendag ri tersebut,” ungkap Aziz, ke marin. Menurut dia, secara sosiologis- historis wilayah yang dikatakan masuk ke Kabupaten Muba meruapakan wilayah Keca matan Rawas Ilir.” Dulu sebelum pemekaran wilayah masuk Kabupaten Mura, sekarang sudah pemekaran masuk Ka bu – paten Muratara,” tegasnya.

Dari awal, sambung dia, wilayah Suban IV masuk dalam segmen DusunVdanDusunVI, Desa Be ringin Makmur II, Ke camatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara. Jadi, tidak ada satu alasan pun, wilayah tersebut harus diserah – kankeKabupatenMuba. Pemerintah pusat harus ambil sikap. “Kita masyarakat Muratara mendukung sikap tegas Pem kab Muratara menolaktapalbatasbaru dibuat Dirjen Pe merintah Umum Kementerian Dalam Negeri tidak ditanda tangani,” tukasnya. Seperti dilansir koransindo.
Bahkan, dia menilai penolakan yang dilakukan Pemkab Muratara sejalan dengan aspirasi masyarakat Muratara, khu – susnya Kecamatan Rawas Ilir.” Keberanian Pemkab Muratara suatu kehormatan bagi masyarakat Muratara,” katanya. Apa pun yang terjadi, masyarakat Rawas Ilir akan berada di garda terdepan mendukung sikap Pemkab Muratara.” Kita telah sampaikan kepada Pen jabat Bupati Muratara, H Aki sropi Ayub jangan sampaikan gentar, teruslah teguh pendirian, yakinlah warga akan berbodong-bodong datang dengan sukarela mempertahankan kekayaan wilayah Muratara,” ujar nya.

Dimana pada intinya, masyarakat tidak rela wilayah yang memiliki sumber daya alam (SDA), seperti batubara, mi nyak, dan gas bumi yang telah di upayakan investor dan masyarakat Mura – tara masuk ke Kabupaten Muba. “KamimintatimKemendagri turun ke lapangan lagi dan lihat rea litas di bawah. Bukan me nen – tukan atas dasar keputusan keputusan sepihak,” tutupnya. Sementara itu, Asisten I Tata Pemerintahan Pemkab Mura tara, Riswan Effendi membenarkan, pihaknya masih mempersoalkan tapalbatasSubanIV.

“Kitamenolak dan tidak mau tan da tangan, karena tapal ba tas di buat Kemendagri tidak se suai harapan masyarakat Mu ratara,” ungkap Riswan. Menurutnya, pe nentuan tapal batas itu je las merugikan masyarakat Mu ratara. Kar en a nya, Pem kab Mu ra tara me min ta ma salah batas wil ayah ini ditinjau ulang ka rena pembuatan nya tanpa didahului peninjauan langsung ke la pangan.

“Kemendagri harus menentukan tapal batas ini sesuai dengan aturan yang ada dengan me lakukan peninjauan di lapangan terkait batas-batas wilayahyah di dua kabupaten. Kami harap Kemendagri bisa memberikan penilaian dan keputusan yang tak merugikan kedua belah pihak,” pungkasnya. lhengky ca.

Sementara dari Musi Rawas gayung bersambut. Mengutip laporan
antarasumsel, (08/12/2013 ) Lembaga Swadaya Masyarakat “Gerakan Sumpah Undang-Undang” Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, minta tambang minyak dan gas bumi wilayah Suban IV diperbatasan Musirawas-Musi Banyuasin jangan dipolitisasi.

“Secara hukum Suban IV itu adalah milik Musirawas karena daerah itu pernah menerima dana bagi hasil migas sekitar tahun 2008,” kata Koordinator LSM “Gerakan Sumpah Undang-Undang” Kabupaten Musirawas Herman Sawiran, Minggu.

Ia menjelaskan, setelah pemekaran Kabupaten Musirawas Utara (Muratara) beberapa bulan lalu wilayah tambang migas suban IV itu diutak atik pihak berwenang sehingga masuk konsumsi politik.

Sesuai peraturan Menteri Dalam Negeri atau Permendagri Nomor 63 Tahun 2007 menerangkan bahwa sumur gas Suban IV masuk wilayah Musirawas. Dengan demikian daerah itu berhak menerima dana bagi hasil migas dari lokasi tersebut.

Sementara itu, Ketua Tim Advokasi Pemerintah Daerah Kabupaten Musirawas Eggi Sudjana belum lama ini menilai, kasus klaim kepemilikan kawasan Suban IV antara Pemkab Musirawas dan Pemkab Musi Banyuasin, merupakan kasus hukum bukan kasus politik.

“Ini murni kasus hukum, bukan kasus politik karena secara yuridis Musi Rawas menjadi pemilik kawasan yang disengketakan sesuai Permendagri No.63/2007 dan sejak 2008 daerah itu sudah menerima pembagian dana bagi hasil (DBH) Migas Suban IV,” katanya.

Untuk menyelesaikan sengketa soal kepemilikan Suban IV antara Musirawas dan Musi Banyuasin, pihaknya telah melayangkan surat ke Mendagri dan Gubernur Sumsel untuk mengingatkan kembali soal sumur gas Suban IV milik Musirawas tersebut.

“Kami menunggu surat yang kami layangkan belum lama ini apakah mendapat tanggapan atau tidak, jika tidak ada tanggapan kami beranggapan bahwa Suban IV tidak ada persoalan dan tetap milik Musirawas sesuai peraturan Mendagri tersebut,” ujarnya.

Pihaknya minta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan menyikapi persoalan Suban IV itu agar tidak berlarut-larut.

Selaku tim advokasi Pemkab Musirawas, ia akan menuntut dana bagi hasil migas yang selama ini masuk ke Musi Banyuasin sejak 2001 hingga 2007 kurang lebih Rp280 miliar dengan asumsi per tahun senilai Rp 40 miliar.

Diharapkan juga Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit terhadap DBH bisa transparan dan tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat, tambahnya.

Namun yang menjadi pertanyaan masyarakat adakah keputusan suban ini sudah adil sehingga tidak merugikan pihak manapun ataukah sarat dengan politisi dan cacat birokrasi konstitusi. Jika yang kedua terjadi maka tiga kabupaten (musirawas, muratara dan muba) telah mengaktifkan bom waktu. Entah cepat atau lambat ia akan meluluh-lantakkan daerah ini. Para LSM dan organisasi-organisasi kemasyarakatan akan mengambil peranan atas ketidakupayaan pemerintah dalam mengatasi hal ini secara bijak.

Resmi, KONI Muratara Berdiri


MUARA RUPIT – KONI Sumsel lahirkan anggota baru. Yakni KONI Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Induk olahraga dibawah pimpinan Solehan ini resmi dikukuhkan di Balai Pertemuan Muara Rupit, Senin (17/3).
Bupati Muratara, Akisropi Ayub memberi suport pada seluruh pengurus KONI Muratara edisi pertama masa bakti 2014-2018. Apa yang telah dilakukan oleh Muratara merupakan suatu hal yang positif dan sudah satu langkah lebih maju.
“Meski terbilang daerah paling bungsu, namun Muratara sudah satu langkah lebih maju dari Pali yang lebih dahulu terbentuk. Ini menunjukkan kalau Muratara sangat serius dalam hal pengembangan kemajuan olahraga di daerah," ujar dia dikutip Humas KONI.
Selain KONI selaku induk olahraga lanjutnya, Muratara juga miliki beberapa pengurus cabang olahraga (pengcab). Diantaranya Perbakin (menembak) dan PBSI (bulu tangkis). Pembentukan pengurus tangkai olahraga dan KONI dimaksudkan untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Lubuk Linggau, Oktober nanti.
"Kita berharap saat pelaksanaan Porprov nanti, Muratara bisa membuktikan sebagai daerah baru yang bisa mendulang emas di beberapa cabor. Tidak mustahil, karena Muratara sudah memiliki beberapa atlet andalan serta atlet yang memiliki bakat alam. Lebih membanggakan lagi, kita  didukung oleh 33 perusahaan selaku penyantun dalam mendukung pembinaan olahraga di Muratara," tukas dia.
Di sisi lain Wakil Ketua Umum IV KONI Sumsel, Amir Faisal hadir langsung dalam sesi pelantikan mengaku salut dengan sepak terjang Muratara membangun olahraga. “Saat ini KONI Sumsel telah memiliki 15 anggota KONI Kabupaten dan Kota, dengan terbentuknya KONI Muratara ini, artinya anggota KONI Sumsel bertambah menjadi 16. Saya ucapkan selamat atas terbentuknya KONI Muratara, dan dalam waktu dekat juga akan segera terbentuk KONI Kabupaten Pali. Artinya KONI Sumsel memiliki 17 anggota KONI di Kabupaten Kota," kata dia dalam sambutan.
Masih kata Amir, dengan dibentuknya KONI Muratara ini, diharapkan Muratara dapat segera melahirkan atlet-atlet berprestasi yang akan menjadi andalan Sumsel ditingkat nasional maupun internasional.  "Muratara bisa mempersiapkan atlet-atletnya untuk ikut berpartisipasi pada Porprov. Kemudian pada November mendatang, juga akan dilaksanakan PON Remaja di Jawa Timur, hingga perlu juga dipersiapkan atlet remaja usia dibawah 16 tahun," pungkasnya. (ion)

Muratara Akan Bangun 400 Ribu Hektar Sawah, Siap Jadi Lumbung Beras Di Sumsel


MURATARA – Sekretaris Daerah (sekda) kabupaten Muratara H M. Isa Sigit mengatakan Pemkab Muratara akan membangun irigasi rawas di sungai baung, Rawas Ulu. Dianggarkan lahan irigasi tersebut dapat menampung 400.000 hektar sawah. Misi kedepan pemkab Muratara menjadikan daerah tersebut lumbung beras di Sumsel.
“Jika irigasi tersebut telah terwujud darinya akan tercetak 400 ribu hektar sawah, berarti beberapa tahun kedepan kabupaten Muratara siap menjadi lumbung beras di Sumatera Selatan” terangnya. Rilis kabar kite.com.
Berdasarkan penjelasan sekda Muratara, pihaknya beserta beserta pejabat Bapedda provinsi, Bappenas dan menteri Pekerjaan Umum (PU) telah melakukan peninjauan lokasi rancangan pembangunan irigasi sungai baung tersebut. Untuk saat ini sedang dilakukan proses pembebasan lahan milik warga dan pembuatan perancangan pembangunannya (master plan) proyek.
“Pada tahun 2015 nanti pembangunan irigasi ini melaui dana APBN dan APBD. Sedangkan angka nominal proyek belum bisa prediksikan”. Jelasnya.
Proyek pembinaan irigasi ini mencakupi irigasi berkisar lebar 200 meter untuk pengairan 400 ribu hektar sawah. Pembangunan proyek irigasi ini memberi harapan baru pada masyarakat Muratara, disamping bisa mendongkrak perekonomian daerah juga menyerap banyak tenaga pekerja.
“Bentuk irigasi yang akan dibangun di Sungai Baung, Muratara tersebut dengan bentuk multi fungsi. Bukan saja tempat membudidayakan tanaman padi saja tetapi bisa dipakai untuk pertanian jenis lainnya, seperti perternakan, perikanan, pencegahan banjir dan pariwisata” terangnya.
Irigasi merupakan sistem pertanian yang menjanjikan bagi masa depan negara tau daerah. Negara-negara maju sangat memprioritas pertanian dengan melakukan berbagai pengembangan dibidang ini.
Berbeda: Berdasarkan penjelasan menteri pertanian melalu situs resmi bkp.pertanian.go.id. Pangan dan ketahanan pangan merupakan salah satu isu prioritas bagi komunitas global dan organisasi internasional, termasuk Corperation (APEC).
Seperti dilansir antara. Bayuwangi adalah daerah yang telah berhasil dalam pembangunan ekonomi melalui sistem pertanian dan irigasi ini, pihak pemkab Bayuwangi telah membangun saluran irigasi di 325 titik, terdiri dari saluran primer sepanjang 7.000 meter, saluran sekunder 17.095 meter dan tersier 40.035 meter.Pemkab Banyuwangi telah menyiapkan areal dengan luas sekitar 70.000 hektare yang tidak boleh diganggu gugat untuk proyek ini. Selama tahun 2013 Saat ini, Kabupaten Banyuwangi masih surplus beras sekitar 260.000 ton per tahun.
Data Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi mencatat
Menurut ia, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai sekitar 46 persen dengan pertumbuhan rata-rata 5,5 hingga 6 persen pertahun. Papar antarajatim (25 Mar 2014).
Agenda pemkab Muratara menjadikan daerah swasembada pangan dan berorientasikan pertanian merupakan langkah tepat dan menjanjikan, mengingat daerah ini masih banyak tersedianya lahan pertanian yang berskala luas dan cura hujan yang cukup.

Pemkab Muratara Adakan Program Kuliah Gratis


MURATARA – Pemerintah Kabupaten Musirawas Utara (Muratara) akan memberikan program beasiswa kuliah gratis, kepada lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) se Kabupaten Muratara yang tidak mampu untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Muratara Firdaus kepada Tribunsumsel.com, Rabu (26/3/2014).
“Kuliah gratis ini merupakan program dari Pemkab tahun ini, yang dimana diperuntukan kepada siswa-siswi yang tidak mampu, dan perguruan tingginya telah ditunjuk oleh pemerintah,” jelasnya
Ia menambahkan, untuk mendapatkan beasiswa kuliah gratis tersebut, para calon mahasiswa sebelumnya harus lulus tes terlebih dahulu di perguruan tinggi negeri yang telah ditentukan. Nantinya seluruh biaya, pemerintah yang akan menanggung sampai tamat menempuh jalur pendidikan strata satu.
“Jadi perlu dicatat, pemerintah hanya memberikan bagi warga yang tidak mampu dan telah dinyatakan lulus ke perguruan tinggi tersebut. Setelah persyaratan selesai, maka warga asli Muratara tinggal belajar saja, tidak perlu memikirkan biaya,” jelasnya
Adapun perrguruan tinggi yang rencananya ditunjuk oleh pemerintah, untuk menampung putra-putri terbaik Muratara, saat ini baru beberapa perguruan tinggi terkemuka. Diantaranya, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, UPI dan Institut Teknologi Bandung.
“Kita juga telah menentukan Fakultasnya, yaitu untuk Jurusan Teknik, Pertambangan dan Kedokteran. Hal ini mengingat potensi daerah yang perlu dengan disiplin ilmu atau tenaga ahli, untuk membangun Kabupaten Muratara yang baru saja terbentuk,” jelasnya.
Selain itu, setelah lulus mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Para alumnus yang telah diberikan beasiswa, diwajibkan untuk mengabdi di Pemerintah Kabupaten Muratara dan sangat dibutuhkan kedepannya.”Kendatipun telah dibiayai pemerintah, untuk masuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil tetap melewati proses seleksi,” pungkasnya.

Arkeolog: Muratara Kaya Peninggalan Sejarah


MURATARA – Merupakan salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Selatan. Kabupaten ini terletak pada koordinat 102o07’00’’ – 103o40’00’’ BT 2o20’00” – 3o38’00” LS. Letaknya berada di sisi barat laut Propinsi Sumatera Selatan, yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jambi di Utara dan Propinsi Bengkulu pada bagian barat, dengan Muara Rupit sebagai Ibu kota Kabupaten.
Temuan arkeologis yang terdapat di wilayah ini cukup beragam, mulai dari masa prasejarah hingga ke masa kolonial. Beberapa tahun lalu terdapat berita yang mengabarkan adanya temuan bata candi di Sungai Rupit Desa Beringin Jaya Kecamatan Rupit. Sebelum adanya berita tentang temuan bata candi, di kabupaten ini sudah diteliti oleh para ahli arkeologi dari Pusat Arkeologi Nasional dan balai Arkeologi Palembang.
Daerah yang pernah diteliti di kabupaten ini antara lain situs Beringin Jungut, Bukit Candi, Lesung Batu, Candi Tingkip. Situs-situs tersebut merupakan situs dari masa Hindu-Budha dengan temuan berupa struktur candi, arca, lingga yoni, serta artefak berupa pecahan gerabah serta keramik.
Berdasarkan berita dari masyarakat tentang temuan tumpukan bata yang terdapat di Sungai Rupit, pada pertengahan bulan November 2012, Balai Arkeologi Palembang meninjau adanya temuan tersebut. Desa ini terletak di sebelah utara Kota Lubuk Linggau dengan jarak sekitar 80 km. Desa Beringin Jaya merupakan desa yang terletak di tepian Sungai Rupit. Temuan bata yang diduga merupakan sisa-sisa bangunan candi terdapat di salah satu kelokan sungai Rupit. Pada saat pengamatan di lokasi, bata candi tidak terlihat karena keadaan air sungai sedang tinggi.
Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti mengapa terdapat bata di dalam sungai. Dugaan sementara, bata tersebut merupakan sisa dari bangunan candi, melihat dari ukuran bata yang jauh lebih besar dari bata yang ada sekarang.
Situs lain yang terdapat di wilayah ini adalah Candi Tingkip. Situs ini pernah diteliti tahun pertengahan 90an sampai awal tahun 2000. Pendataan ulang dilakukan dengan mendeskripsikan keadaan sekarang dari situs, lingkungan situs dan plotting keletakkan situs. Candi ini terletak di Desa Kikim Subur, Kecamatan Rawas Ulu. Situs berikutnya Candi Lesung Batu atau dikenal juga dengan sebutan Bukit Candi yang terletak di Desa Lesung Batu Muda, Kecamatan Rawas Ulu. Situs ini diteliti mulai tahun 1994 dan awal tahun 2000.
Survei arkeologi dilanjutkan di Kecamatan Ulu Rawas yang terletak di bagian barat Kabupaten Ulu Rawas yang sudah berbatasan dengan Propinsi Jambi di bagian utara. Sebelum masuk di Kecamatan Ulu Rawas, terdapat Desa Lubuk Mas. Di desa ini terdapat sebuah meriam kuno dengan ukuran panjang 161,5 cm dan diameter 13,5 cm. Meriam ini terbuat dari perunggu dengan hiasan naga dari pangkal sampai ujung meriam. Saat ini meriam disimpan dan dirawat oleh Bapak Hata (62 thn). Menurut masyarakat, meriam ini bernama “Setundung Musuh” yang artinya mengusir musuh. Bapak Hata menyebutkan bahwa meriam ini merupakan peninggalan dari tokoh pahlawan yang bernama Depati Kurus. Selain meriam juga terdapat dayung yang ditemukan bersamaan dengan meriam. Dayung terbuat dari kayu dengan ukuran panjang gagang 128 cm, panjang bilah 36 cm lebar bilah 15 cm. survei dilanjutkan ke Kecamatan Ulu Rawas dengan tujuan Desa Napal Licin. Di desa ini terdapat gua yang oleh masyarakat dinamakan Gua Batu.
Gua ini berada di tebing tepi jalan dengan ketinggian sekitar 30 meter dari jalan. Mulut gua menghadap ke Sungai Rawas (arah barat). Lantai gua cukup landai dan pada bagian mulut gua keadaan lantai gua cukup kering. Survei permukaan di dalam gua berhasil menemukan artefak batu berupa serpih dari rijang, andesit dan obsidian. Keadaan lantai gua saat ini ada yang digali oleh masyarakat dengan tujuan mengambil tanah dari gua yang mengandung guano yang dimanfaatkan sebagai pupuk. Masih di desa ini, terdapat temuan batu silindrik yang berukuran panjang 278 cm, diameter pangkal 108 cm dan lebar ujung 75 cm. Batu ini membujur dengan orientasi timur laut. Kemudian ada juga batu yang oleh masyarakat disebut dengan “batu megas” atau “ibat nasi” yang terdapat di area penguburan masyarakat Desa Napal Licin. Batu Megas ini juga terdapat di desa yang paling ujung Kecamatan Ulu Rawas, yaitu Desa Kuto Tanjung.

Copyright @ 2013 Musi Rawas Utara.